Menelusuri Jejak Waktu
Sorong bukan sekadar pintu gerbang, melainkan saksi bisu perebutan hegemoni global. Dari gemuruh baling-baling pesawat tempur Sekutu di Yefman hingga anggunnya arsitektur kolonial Belanda di Doom, temukan kepingan sejarah yang membentuk identitas Papua Barat Daya.
Mulai PenjelajahanPulau Yefman
Teater Perang Pasifik (WWII)
Pendudukan Kekaisaran Jepang
Pasukan Jepang mendarat di wilayah Sorong dan sekitarnya, merebut kendali dari Belanda. Mereka mulai mengidentifikasi potensi strategis kepulauan di ujung barat Papua ini sebagai basis pertahanan.
Invasi Sekutu & Pembangunan Bandara
Pasukan Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur membebaskan Sorong. Segera setelah itu, Korps Zeni Angkatan Darat AS (US Army Engineers) mulai membangun landasan pacu sepanjang 6.000 kaki di Pulau Yefman. Material karang putih diuruk untuk membentuk fondasi yang solid.
Jantung Serangan Udara Pasifik
Pangkalan Udara Yefman beroperasi penuh. Skuadron pembom B-24 Liberator dan pesawat tempur P-38 Lightning menggunakan Yefman sebagai titik tolak untuk membombardir pertahanan Jepang di Halmahera, Filipina, hingga laut Sulawesi. Pulau ini dipenuhi ribuan tentara, tenda barak, dan fasilitas militer.
Pulau Doom
Pusat Pemerintahan Kolonial
Penetapan sebagai Ibu Kota Afdeling
Pemerintah Hindia Belanda memilih Pulau Doom yang berjarak 3 km dari pesisir Sorong sebagai ibu kota Afdeling (setingkat kabupaten) karena letaknya yang strategis, perairan yang dalam untuk bersandar kapal besar, dan bebas dari wabah malaria yang saat itu melanda daratan utama.
Masa Keemasan "Kota Satelit"
Pulau Doom berkembang pesat. Belanda membangun infrastruktur bergaya Eropa: rumah dinas pejabat (Hoofdplaats), penjara (Gevangenis), gereja, gardu listrik, dan fasilitas hiburan. Jalanan diaspal rapi dan penerangan jalan dipasang, menjadikannya pulau paling modern di kawasan tersebut. Penduduk lokal sering menyebutnya "pulau bintang" jika dilihat dari jauh pada malam hari.
Pendudukan Jepang & Kerusakan
Pasukan Jepang mengambil alih Pulau Doom tanpa banyak perlawanan. Mereka menggunakan infrastruktur yang ditinggalkan Belanda. Pada masa pembebasan oleh Sekutu, pulau ini mengalami bombardir yang menghancurkan beberapa bangunan asli Belanda.